Saturday, October 19, 2013

Analisis Kesalahan Ejaan dan Diksi pada Artikel

Berita ini saya kutip dari “http://id.berita.yahoo.com/atm-kurang-turis-pulau-seribu-pinjam-duit-bupati-034425439.html


ATM Kurang, Turis Pulau Seribu Pinjam Duit Bupati  

TEMPO.CO, Jakarta - Bupati Kepulauan Seribu Asep Syarifudin mengatakan, keterbatasan jumlah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan gerai bank tak hanya mempersulit warga Kepulauan Seribu yang jumlahnya mencapai 24.300 jiwa itu. "Wisatawan juga kesulitan karena ATM terbatas itu," ujar Asep kepada Tempo, Kamis, 19 September 2013.

Asep mengatakan, di Kepulauan Seribu, tak jarang seorang atau sekelompok wisatawan harus mengambil uang ke ATM, terutama untuk berbelanja atau membayar wahana di Kepulauan Seribu. Namun, karena jumlah ATM yang terbatas, tak jarang wisatawan gigit jari karena tak bisa menikmati wisata di Kepulauan Seribu secara maksimal.

ATM di Kepulauan Seribu diketahui hanya ada tiga, yaitu di Pulau Pramuka, Tidung, dan Kelapa. Masing-masing ATM menyimpan uang Rp 400 juta, yang menurut keterangan warga, dalam tiga hari langsung habis dan perlu diisi ulang

.Asep mengaku, beberapa kali ia meminjamkan uang kepada wistawan yang tak bisa mengambil uang karena uang di ATM habis. Bulan lalu misalnya, di Pulau Pari, ia meminjamkan uang Rp 500 ribu ke wisatawan

."Saya kebetulan saja ketemu mereka yang enggak bisa ambil. Ya sudah langsung saya pinjamkan uang sama saya kasih nomor rekening saya untuk transfer gantinya nanti. Untung dikembaliin uangnya,"ujar Asep sambil tertawa. Ia berkata, kalaupun uangnya tak kembali, ia anggap belum dapat rezeki saja.
ISTMAN MP

Analisis Kesalahan Ejaan dan Diksi
Berikut hasil analisis dari kesalahan ejaan dan diksi pada artikel di atas:
No
Kesalahan
Perbaikan
Alasan
1
Bupati Kepulauan Seribu Asep Syarifudin mengatakan, keterbatasan jumlah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan gerai bank tak hanya mempersulit warga Kepulauan Seribu yang jumlahnya mencapai 24.300 jiwa itu.
Bupati Kepulauan Seribu, Asep Syarifudin, mengatakan, keterbatasan jumlah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan gerai bank tak hanya mempersulit warga Kepulauan Seribu yang jumlahnya mencapai 24.300 jiwa itu.
Tidak ada tanda koma  di antara frasa "Bupati Kepulauan Seribu" dengan "Asep Syarifudin". Tanda koma seharusnya digunakan untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

2
"Wisatawan juga kesulitan karena ATM terbatas itu," ujar Asep kepada Tempo, Kamis, 19 September 2013.

"Wisatawan juga kesulitan karena ATM terbatas itu." ujar Asep kepada Tempo, Kamis, 19 September 2013.
Tanda yang digunakan pada akhir kalimat langsung seharusnya tanda "titik", bukan "koma". Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
3
Asep mengatakan, di Kepulauan Seribu, tak jarang seorang atau sekelompok wisatawan harus mengambil uang ke ATM, terutama untuk berbelanja atau membayar wahana di Kepulauan Seribu.
Asep mengatakan, di Kepulauan Seribu, tak jarang seorang atau sekelompok wisatawan harus mengambil uang ke ATM, terutama untuk berbelanja atau membayar wahana rekreasi di Kepulauan Seribu.
Pada Kalimat tersebut, kata “wahana” perlu diperjelas diksinya, karena pengertian “wahana” adalah kendaraan atau alat pengangkut, alat atau sarana untuk mencapai suatu tujuan.
4
Asep mengaku, beberapa kali ia meminjamkan uang kepada wistawan yang tak bisa mengambil uang karena uang di ATM habis.
Asep mengaku, beberapa kali ia meminjamkan uang kepada wisatawan yang tak bisa mengambil uang karena uang di ATM habis.
Kesalahan dalam ejaan "wistawan". Kata yang benar adalah "wisatawan".
5
"Saya kebetulan saja ketemu mereka yang enggak bisa ambil. Ya sudah langsung saya pinjamkan uang sama saya kasih nomor rekening saya untuk transfer gantinya nanti. Untung dikembaliin uangnya,"ujar Asep sambil tertawa.
"Saya kebetulan saja ketemu mereka yang enggak bisa ambil. Ya sudah, langsung saya pinjamkan uang sama saya kasih nomor rekening saya untuk transfer gantinya nanti. Untung dikembaliin uangnya.", ujar Asep sambil tertawa.

·       Tanda yang digunakan pada akhir kalimat langsung seharusnya tanda "titik", bukan "koma".
·       Tidak ada tanda koma untuk memisahkan kalimat langsung dengan bagian lain dalam kalimat.
·       Tanda koma tidak digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat

Tuesday, October 8, 2013

Bad Design: Nokia N-Gage Classic



Nokia N-Gage Classic merupakan ponsel sekaligus Handheld Game Console yang dirilis Nokia, berdasarkan pada platform Series 60 Nokia, pada tanggal 7 Oktober 2003.Ditargetkan kepada Mobile gamer, Nokia N-Gage menawarkan permainan game secara multiplayer secara online danmobile, dengan menggunakan Bluetooth dan GPRS. Ponsel ini menggunakan layar backlit yang memiliki resolusi 208 x 176 Pixel dengan 4.096 warna . Ponsel ini juga memiliki directional kontrol delapan arah yang disebut rocker . N-Gage sebenranya merupakan peluang yang sangat bagus untuk menguasai pasar mobile gaming dimana ponsel inidapat berfungsi sebagai platform game mobile, ponsel tri - band GSM, MP3 player, FM tuner, e-mail client, dan Personal Information Manager. Namun, beberapa kelemahan dalam desain membuat ponsel ini memiliki keterbatasan dalam penggunaannya.


The Bad Side

Desain Perangkat
Walaupun bentuknya cocok untuk digunakan bermain game, namun untuk berkomunikasi dengan menggunakan ponsel ini terasa cukup canggung karena letak speaker dan microphone yang ada di sisi tepi ponsel. Banyak yang menyayangkan hal ini dan kemudian menyematkan nama “tacophone” atau “sidetalking” pada ponsel ini.




Selain itu, meskipun ponsel ini dioptimalkan untuk mobile-gaming, namun desain posisi slot memory cardnya tidak mendukung bagi para gamer untuk mengganti mamory cardnya secara efisien. Nokia memilih untuk mengandalkan MMC untuk penyimpanan MP3, gambar, dan game. Untuk mengganti satu MMC ke MMC lain prosesnya dimulai dengan mematikan ponsel, membuka cover belakang ponsel, melepas baterai, mengganti MMC, lalu mengembalikan lagi semua bagian yang dilepas untuk dapat menyalakan ponsel kembali.Sungguh merupakan proses yang memakan waktu bagi para gamer yang ingin segera bermain dengan game favoritnya.

Terakhir, Hal ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, namun sebagian gamer lebih suka memainkan game dalam posisi landscape karena layar terasa lebih luas. Layar Potrait pada ponsel ini dirasa oleh sebagian gamer mengurangi pengalaman bermain game yang menyenangkan.

Desain Software
Sebagai pemutar music dan perekam, ponsel ini memiliki banyak kekurangan fitur-fitur penting seperti as fast forward/rewind, replay, playlist, dan graphic equalizer. Perlu ditambahkan juga bahwa volume suara ponsel ini pada mode loudspeaker akan teredam oleh suara-suara berisik dari lingkungan sekitar.

Selain itu, kelemahan yang juga cukup mengganggu, ponsel ini tidak bias memutar music sambil memainkan game.


Kesimpulan

Menurut saya, Nokia N-Gage merupakan terobosan ide yang cukup berpeluang untuk menjadi handheld gadget yang booming pada masanya. Namun kelemahan yang telah disebutkan sebelumnya membuat ponsel ini seperti setengah hati memberikan layanan bagi para penggunanya.

Beberapa hal yang seharusnya diperbaiki dari ponsel ini, menurut saya, adalah:
  • Nokia seharusnya merelokasi posisi speaker dan microphone agar pengalaman berkomunikasi dengan ponsel ini lebih terasa normal dan tidak canggung seperti ponsel pada umumnya.
  • Posisi slot memory card seharusnya dapat diganti menjadi eksternal, sehingga para pengguna tidak perlu mematikan dan membongkar ponsel hanya untuk mengganti memory cardnya.
  • Perlunya perbaikan terhadap aplikasi pemutar musik dan perangkat suara. Selain itu pengguna juga pastinya menginginkan perangkat yang multitasking yang dapat menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan.


  
Sumber:

gambar:

http://www.nyunyu.com/medias/2013/02/09/images/Nokia-N-Gage.jpg

Tuesday, June 11, 2013

Kepemimpinan

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka. Sebagaimana didefinisikan oleh Stoner, Freeman, dan Gilbert (1995), kepemimpinan adalah  the process of directing and influencing the task related activities of group members.  Kepemimpinan  adalah proses dalam mengarahkan dan mempengaruhi para anggota dalam hal berbagai aktivitas yang harus dilakukan. Lebih jauh lagi, Griffin (2000) membagi pengertian kepemimpinan menjadi dua  konsep, yaitu sebagai proses, dan sebagai atribut. Sebagai  proses, kepemimpinan difokuskan kepada apa yang dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana  para pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi  atribut, kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin mereka.

Kepemimpinan merupakan hasil daripada organisasi sosial yang telah terbentuk atau sebagai hasil dinamika daripada interaksi sosial. Sejak mula kala terbentuknya suatu kelompok sosial, seseorang atau beberapa orang di antara warga-warganya melakukan peranan yang lebih aktif daripada rekan-rekannya, sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak lebih menonjol daripada yang lainnya.  Itulah asal mula timbulnya kepemimpinan, yang kebanyakan timbul dan berkembang dalam struktur sosial yang kurang stabil. Munculnya seorang pemimpin sangat diperlukkan dalam keadaan – keadaan di mana tujuan daripada kelompok sosial yang bersangkutan terhalang atau apabila kelompok tadi mengalami ancaman- ancaman dari luar. Dalam keadaan demikianlah, agak sulit bagi warga – warga kelompok yang bersangkutan untuk menentukkan langkah – langkah yang harus diambil dalam mengatasi kesulitan yang dihadapinya.

Munculnya seorang pemimpin merupakkan hasil dari suatu proses yang dinamis yang sesuai dengan kebutuhan – kebutuhan kelompok tersebut. Apabila dalam saat tersebut muncul seorang pemimpin, maka kemungkinan  besar kelompok tersebut akan mengalami suatu disintegrasi. Tidak munculnya pemimpin tadi adalah mungkin karena seorang individu yang diharapkan menjadi pimpinan,  ternyata tidak berhasil membuka jalan bagi kelompoknya untuk mencapai tujuan dan bahwa kebutuhan warganya tidak terpenuhi.


Tipologi Kepemimpinan

Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).

Tipe Otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.

Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.



Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan

Hersey dan Blanchard (1988) mengajukan semacam formula bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dan tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dan pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dan pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s), yang dapat dinotasikan dalam bentuk formula  :

 k = f (p, b, s).

Pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual.  Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dan suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin.
Adapun situasi (s) adalah suatu keadaan di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.
Selain Hersey dan Blanchard, para ahli yang membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan adalah Theodore J. Kowalski, Thomas J. Lasley II, James W. Mahoney (2008).  Ketiga ahli ini memandang kepemimpinan dipengaruhi oleh tiga lingkaran variabel, yaitu variabel  individu, organisasi, dan sosial. Seperti tampak pada gambar berikut:

_Pic5
Keputusan tentu diambil oleh individu. Akan tetapi keputusan itu tidaklah murni disebabkan oleh kehendak individu tersebut, tetapi ada pengaruh dari faktor organisasi kemudian faktor sosial yang melikupi individu tersebut. Kowalski dkk. (2008: 25-46) menguraikan faktor-faktor dalam tataran individu, organisasi, dan sosial.
Pada tataran individu, faktor-faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan dan keterampilan,  karakteristik pribadi, nilai-nilai yang diyakini, penyimpangan, dan gaya dalam membuat keputusan. Variabel organisasi mencakup iklim dan budaya,  politik organisasi, ancaman dan resiko, Ketidak-pastian, kerancuan, dan pertikaian.  Sedangkan yang mencakup variabel sosial adalah kebutuhan resmi, meta –value, politik, dan ekonomi.  
Dengan pola dikotomi, berdasarkan formula Hersey dan Blanchard  serta penjelasan yang dikemukakan Kowalski dkk. di atas, penulis bisa membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan menjadi dua faktor besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang muncul dari diri pemimpin, sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terkait dengan karakteristik bawahan dan situasi. Termasuk didalamnya situasi organisasi dan sosial.

  1. Faktor Internal
Sebagai seorang pribadi, pemimpin tentu memiliki karakter unik yang membedakannya dengan orang lain. Keunikan ini tentu akan berpengaruh pada pandangan dan cara ia memimpin. Ada karakter bawaan yang menjadi ciri pemimpin sebagai individu, ada kompetensi yang terbentuk melalui proses pematangan dan pendidikan. 
Menurut Mustodipradja, dengan mengutip Rothwell dan Kazanas, kompetensi pemimpin merupakan cerimanan kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Selain traits dan Spencer dan Zwell tersebut, terdapat karakteristik kompetensi lainnya, yatu berupa motives, self koncept.knowledge, dan skill.
 Menurut review Asropi (2002), berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang, yang dapat mengarahkan, mendorong, atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan. Self concept adalah sikap, nilai, atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri; yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. Knowledge adalah informasi yang dimiliki seseorang dalam suatu bidang tertentu. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu, baik mental atau pun fisik.
Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang bersifat intention dalam diri individu, skill bersifat action. Skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives, traits, self concept, dan knowledge.
Dengan mengutip pendapat Spencer (1993) dan Kazanas (1993), Asropi menjelaskan bahwa  kompetensi kepemimpinan secara umum dipilah menurut jenjang, fungsi, atau bidang, yaitu kompetensi berupa : result orientation, influence, initiative, flexibility, concern for quality, technical expertise, analytical thinking, conceptual thinking, team work, service orientation, interpersonal awareness, relationship building, cross cultural sensitivity, strategic thinking, entrepreneurial orientation, building organizational commitment, dan empowering others, develiping others. Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manaj erial.
Ke 18 kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak, pimpinan menengah, dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor). Kompetensi pada pimpinan puncak adalah result (achievement) orientation, relationship building, initiative, influence, strategic thinking, building organizational commitment, entrepreneurial orientation, empowering others, developing others, dan felexibilty.
Adapun kompetensi pada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada influence, result (achievement) orientation, team work, analitycal thinking, initiative, empowering others, developing others, conceptual thingking, relationship building, service orientation, interpersomal awareness, cross cultural sensitivity, dan technical expertise. Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya lebih befokus pada technical expertise, developing others, empowering others, interpersonal understanding, service orientation, building organzational commitment, concern for order, influence, felexibilty,relatiuonship building, result (achievement) orientation, team work, dan cross cultural sensitivity.
Asropi meyakinkan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul, yaitu; (1) pemimpin yang menantang proses, (2) memberikan inspirasi wawasan bersama, (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi, (4) mampu menjadi penunjuk jalan, dan (5) memotivasi bawahan.
Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan bersedia mengikuti perilakunya adalah, apabila manajer memiliki sifat jujur, memandang masa depan, memberikan inspirasi, dan memiliki kecakapan teknis maupun manajerial. Dalam hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer, kunci dan kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan yang terbaik. Dinyatakan, pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan "status quo" dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain, memiliki komitmen organisasional yang kuat, visionary, disiplin din yang tinggi, tidak melakukan kesalahan yang sama, antusias, berwawasan luas, kemampuan komunikasi yang tinggi, manajemen waktu, mampu menangani setiap tekanan, mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya, empati, berpikir positif, memiliki dasar spiritual yang kuat, dan selalu siap melayani.

  1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal jika dikaitkan dengan formula Hersey dan Blanchard, adalah faktor bawahan dan situasi. Faktor bawahan adalah faktor yang disebabkan oleh karakter bawahan, di dalamnya terkait dengan status sosial, pendidikan, pekerjaan, harapan, ideologi, agama dll.  Faktor-faktor itu tentu akan menentukan bagaimana pemimpin mengatur dan mempengaruhinya.  Jika bawahan itu adalah siswa, maka pemipimpin akan menjalan pola kepemimpinan sesuai dengan karakter siswa. Karakter siswa pun akan berbeda-beda, ada yang belum dewasa sehingga pemimpin mendekatinya dengan pendekatan pedagogi, ada pula siswa yang sudah dewasa sehingga memerlukan pendekatan andragogi.
Faktor eksternal lain adalah faktor situasi. Situasi ini berkaitan dengan aspek waktu, tempat, tujuan, karakteristik organisasi dll.  Bertalian dengan waktu, perkembangan  ilmu dan pengetahuan mempengaruhi cara pandang dan budaya manusia. Perkembangan itu berdampak pula pada perubahan konsep kepemimpinan.  Hasbi Umari (2006:1-4)  memaparkan bahwa ada perkembangan dalam kepemimpinan dilihat dari konteks sosial umat Islam.
Menurut Umari,  Ada tiga fase dalam periodesasi kepemimpinan umat di Indonesia. Setiap fase menunjukan genesis kepemimpinan yang khas. Pertama, fase ulama. Pada fase ini, seseorang menjadi pemimpin umat karena is memiliki pengetahuan agama yang mendalam dan menjadi rujukan umat. Ia melewati masa awal hidupnya di pesantren sebagai santri dan menghabiskan sisa hidupnya jugs di pesantren sebagai kiyai.
Kedua, fase organisator. Sebagai reaksi terhadap kebijakan politis kolonial, mungkin antara lain politik etis, masyarakat khususnya umat Islam membentuk organisasi (sosial, ekonomis, atau politis) seperti Syarikat Islam, Muhanunadiyah, NU, Persis, Jami`atul Khair, dan lain-lain. Pada fase ini, pemimpin Islam adalah pemimpin organisasi Islam. Tentu raja, karir kepemimpinan kini tidak dimulai di pesantren, tetapi dari organisasi. Orang menapak, secara berangsur-angsur atau melompat, hierarki organisasi. Variabel kepemimpinan yang utama tidak lagi pengetahuan agama yang mendalam, tetapi keterampilan organisasi (organization skill), termasuk lob­bying dan kasak kusuk. Yang sampai ke tingkat nasional, melalui jenjang organisasi, pada umumnya, walaupun tidak selalu, adalah orang yang mempunyai pijakan loka1.
Fase ketiga, fase pemuka pendapat (opinion leader). Pada fase pertama, pemimpin ulama lahir dan dibesarkan di pesantren. Pada fase kedua, pemimpin organisator lahir dan dibesarkan di organisasi. Dan bagaiinana pula dengan pemimpin umat di besarkan melalui media massa.. Ini adalah dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berdampak pada  kepemimpinan umat. Pada  fase ini yang dianggap sebagai pemimpin umat adalah para empu yang (dianggap) pandai melontarkan isu-isu penting untuk dijadikan agenda media massa. Mereka menulis di media, atau menghadiri berbagai seminar dan diskusi. Atau, mereka mampu menyedot massa yang banyak dalam acara-acara mereka. Apabila media massa yang mengagendakan isu-isu mereka itu lokal, mereka menjadi pemimpin umat berskala lokal. Apabila medianya nasional, merekamenjadi pemimpin umat berskala nasional.
Pengikut fase pertama, santri; fase kedua, anggota organisasi; fase ketiga, "fans" (penggemar). Pada fase ketiga, pemimpin umat (Islam) menjadi "idola". Ada dua jenis pemimpin umat pada fase ketiga ini' yaitu:
Pertama, mubalig. Ia mungkin memulai kariemya pada tingkat lokal. la berbicara pada majelis-majelis taklim atau stadiun radio. Ceramahnya direkam, dan rekamannya direproduksi dan dijual secara nasional. Media massa menyiarkan ceramahnya dan menokohkannya. Tidak perlumubaligituberasal dan pesantren; tidak perlu ia menguasai pengetahuan agama yang mendalam; juga tidakperlu ia memiliki keterampilan komunikasi, termasulc ketnampuan menyiarkan agama sebagai pop culture. Karena digemari oleh orang banyak, para mubaligh menjadi celebrities. Dunia celebrities sudah lama dihuni oleh para entertainers, misalnya artis, pelawak, dan perancang mode. Maka, terjadilah tumpang tindih; mubaligh menjadi artis, artis menjadi mubaligh.
Kedua, cendekiawan. Apabila mubaligh lebih banyak menyentuh ranah afektif, cendekiawan bergerak di ranah kognitif. Ia dibesarkan lewat kerja sama kampus dengan media massa. Melalui tulisan di media, seminar, dan diskusi, paracendekiawan membentukjanngan pengikulnya Bukanmenuduh, umumnya pengetahuan agama mereka sangat dangkal. Akan tetapi, analisis mereka tentangpersoalan-persoalan umat sangat tajam. Mereka membentuk opini, sikap, dan akhimya tindakan umat.
Perkembangan Zaman pun memperlihatkan bahwa ada tiga liran teori  kepemimpinan yang mengalami perubahan pandangan seiring dengan waktu . Studi kepemimpinan yang pada awal perkembangannya cenderung bersifat induktif murni menempati posisi sentral dalam literatur manajemen dan perilaku keorganisasian pada beberapa dekade terakhir.
Secara umum kajian perkembangan riset dan teori kepemimpinan dapat dikategorikan menjadi tiga tahap penting. Pertama, tahap awal studi tentang kepemimpinan menghasilkan teori-teori sifat kepemimpinan (trait theories), yang mengasumsikan bahwa seseorang dilahirkan untuk menjadi pemimpin dan bahwa dia memiliki sifat atau atribusi personal yang membedakannya dari mereka yang bukan pemimpin. Kedua, karena muncul kritik terhadap sulitnya mengelompokkan dan memvalidasi sifat pemimpin, kemudian muncul teori-teori perilaku kepemimpinan (behavioral theories). Pada teori ini penekanan yang semula diarahkan pada sifat pemimpin dialihkan kepada perilaku dan gaya yang dianut oleh para pemimpin. Dengan demikian, berdasarkan teori ini, agar organisasi dapat berjalan secara efektif, terdapat penekanan terhadap suatu gaya kepemimpinan terbaik (one best way of leading). Ketiga, berdasarkan anggapan, bahwa baik teori-teori sifat kepemimpinan maupun teori-teori perilaku kepemimpinan memiliki kelemahan yang sama yaitu mengabaikan peranan penting faktor-faktor situasional dalam menentukan efektifitas kepemimpinan, kemudian muncul teori-teori kepemimpinan situasional (situational theories). Dan pengembangan kelompok teori yang terakhir ini, maka terjadi perubahan orientasi dari `one best way leading' menjadi 'context-sensitive leadership' (Dewi, Piramida Vol.V no.1, 2009).
Dilihat dari faktor tempat pun, konsep kepemimpinan pun akan berubah.  Dilihat dari cakupannya, kita bisa mengkategorikan  kepemimpinan lokal, regional, nasional, bahkan internasional.  Semakin luas cakupan  kepemimpinan akan berdampak pada tuntutan  nilai-nilai universal yang lebih luas.  Semakin sempit cakupan (lokal bahkan pada level organisasi)  akan muncul tuntutan warna loka sesuai dengan kultur masayarakat setempat.  Tulisan La Ode Turi (Budaya Kepemimpinan Lokal dalam  Pelaksanaan MBS, Universitas Kendari) dan Tulisan  Dewi Kurniasih (Kepemimpinan Politik Orang Sunda, Unikom Bandung)  merupakan contoh pendapat bahwa kepemimpinan di wilayah lokal, harus memperhatikan aspek budaya lokal jika kepemimpinan itu ingin efektif.
Agama dan ideologi pun tentu berpengaruh terhadap kepemimpinan.  Komunitas masyarakat Islam, tentu akan menggunakan nilai-nilai Islam dalam  penyusunan konsep dan aplikasi kepemimpinannya.  Demikian pula  masyarakat  Kristen, Budha, dll.   Ideologi  komunis akan menjalankan kepemimpinan dengan ideologi komunis, demikian pula ideologi liberal. 

Sumber:

Pengambilan Keputusan

Definisi Pengambilan Keputusan

Menurut Kamus Oxford, pengambilan keputusan merupakan proses memutuskan tentang sesuatu yang penting, terutama dalam sekelompok orang atau dalam suatu organisasi. Trewatha & Newport menyatakan bahwa, "Pengambilan keputusan melibatkan pemilihan suatu tindakan dari antara dua atau lebih alternatif yang mungkin untuk tiba pada suatu solusi untuk masalah yang diberikan".
Seperti dibuktikan oleh definisi terdahulu, proses pengambilan keputusan adalah hal konsultatif yang dilakukan oleh kumpulan profesional untuk mendorong fungsi yang lebih baik dari setiap organisasi. Hal ini menjelaskan bahwa pengambilan keputusan merupakan aktivitas yang berkelanjutan dan dinamis yang meliputi semua kegiatan lain yang berkaitan dengan organisasi. Proses pengambilan keputusan memainkan penting dalam fungsi organisasi. Karena proses intelektual dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, pengambilan keputusan memerlukan pengetahuan ilmiah yang kuat ditambah dengan keterampilan dan pengalaman di samping kematangan mental.
Selanjutnya, proses pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai check and balance pada sistem yang membuat organisasi tumbuh lebih baik secara vertikal dan linier. artinya, proses pengambilan keputusan memiliki tujuan. Tujuan tersebut bisa berupa tujuan bisnis yang telah ditetapkan, atau juga misi dan visi perusahaan. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan mungkin menghadapi banyak hambatan dalam administrasi, operasional, pemasaran dan bagian operasional. Masalah tersebut diselesaikan melalui proses pengambilan keputusan yang komprehensif. Tidak ada keputusan datang sebagai akhir dari tujuan itu sendiri, karena pengambilan keputusan juga memungkinkan masalah baru untuk munculdalam dapat berkembang untuk memecahkan masalah baru. Ketika salah satu masalah terpecahkan, maka akan muncul masalah baru, sehingga pengambilan keputusan, seperti dikatakan sebelumnya, adalah berkelsnjutan dan dinamis.
Pengambilan keputusan merupakan proses yang cukup memakan waktu. Dalam pengaturan manajemen, keputusan tidak dapat diambil tiba-tiba. Pengambilan keputusan harus mengikuti langkah-langkah seperti:

·       Mendefinisikan masalah
·       Mengumpulkan informasi dan mengumpulkan data
·       Mengembangkan dan menimbang pilihan
·       Memilih opsi terbaik
·       Merencanakan dan melaksanakan
·       Mengambil tindakan lebih lanjut

Karena proses pengambilan keputusan mengikuti langkah berurutan di atas, banyak waktu yang dihabiskan dalam proses ini. langkah diatas diperlukan dalam setiap keputusan yang diambil untuk memecahkan masalah manajemen dan administrasi di lingkungan bisnis. Meskipun seluruh proses memakan waktu, hasil dari proses tersebut dapat memberikan manfaat yang besar dalam sebuah organisasi.


Jenis Pengambilan keputusan perdasarkan prosesnya

Irreversible
Keputusan ini adalah permanen, setelah diambil, mereka tidak dapat dibatalkan. Keputusan ini biasanya hanya bila semua opsi lain telah habis.

Reversible
Keputusan Reversible belum final dan mengikat, mereka dapat ditarik pada setiap titik, apabila terdapat lagi keputusan yang lebih baik. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengakui kesalahan dan melakukan pengendalian kesalahan yang relevan, tergantung pada situasi yang berjalan.

Delayed
Keputusan tersebut ditunda sampai pengambil keputusan berpikir bahwa waktu yang tepat telah datang. Penundaan ini mungkin menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan akan manfaat tertentu, terutama dalam hal bisnis, dan dapat mengakibatkan kerugian. Namun, keputusan tersebut merupakanbagian dari organisasi besar seperti pemerintah, yang memutuskan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang. Waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan semua informasi yang diperlukan dan untuk mengatur rencana implementasi, sangat penting untuk akhir kesejahteraan masyarakat.

Keputusan Cepat
Keputusan ini memungkinkan seseorang untuk memaksimalkan penggunaan kesempatan yang ada di tangan. Namun, hanya kepribadian yang sangat cerdik dapat mengambil keputusan yang baik dan benar seketika. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang singkat, kita juga harus mampu merpertimbangkan efek hasil jangka panjangnya.

Eksperimental
Salah satu cara pengambilan keputusan adalah jenis eksperimental, di mana keputusan akhir tidak dapat diambil sampai hasil awal muncul dan bernilai positif. Pendekatan ini digunakan ketika seseorang yakin tujuan akhir tetapi tidak yakin tindakan apa yang harus diambil. Keputusan eksperimental yang umum di bidang seperti kedokteran, di mana produk yang diuji melalui beberapa tahap, dan keputusan bisa berubah dengan setiap iterasi.

Trial and Error
Pendekatan ini melibatkan percobaan sebuah tindakan tertentu. Jika hasilnya positif, maka akan diikuti lebih lanjut, jika tidak, maka akan dicari keputusan yang baru. Metode trial and error tersebut dilanjutkan sampai pembuat keputusan akhirnya tiba pada tindakan yang meyakinkan dia bahwa keputas yang diambil sudah benar. Hal ini memungkinkan seorang manajer untuk mengubah dan menyesuaikan rencana sampai komitmen akhir dibuat.

Bersyarat
Keputusan kondisional memungkinkan seseorang untuk memiliki banyak opsi terbuka. akan digunakan suatu keputusan yang sama selama keadaan tetap sama. Setelah pesaing membuat langkah baru, keputusan kondisional memungkinkan seseorang untuk mengambil tindakan yang berbeda.



Pengambilan keputusan berdasarkan rutinitas


KEPUTUSAN TERPROGRAM
Keputusan terprogram bersifat rutin dan berulang-ulang, dan organisasi biasanya mengembangkan cara-cara khusus untuk menanganinya. contoh keputusan terprogram dapat dilihat dari cara menentukan bagaimana produk akan diatur di rak-rak supermarket. Untuk jenis rutinitas, masalah berulang, keputusan pengaturan standar biasanya dibuat sesuai dengan pedoman pengelolaan yang ditetapkan.

NON KEPUTUSAN PROGRAM
Keputusan Non terprogram biasanya satu keputusan yang tidak bersifat rutin yang biasanya kurang terstruktur daripada keputusan terprogram


Pengambilan keputusan Berdasarkan tingkat kepentingan

Keputusan strategis
Merupakan keputusan besar mengenai identitas dan arah. Siapakah kita? Dimana kita menuju? Keputusan ini seringkali kompleks dan multi-dimensi. Mereka mungkin melibatkan sejumlah besar uang, memiliki dampak jangka panjang dan biasanya diambil oleh manajemen senior pada organisasi.

Keputusan taktis
Keputusan yang melibatkan pengelolaan kinerja untuk mencapai strategi. Sumber daya apa yang dibutuhkan? bagaimana skala waktunya? Keputusan bersifat lebih khusus tetapi dalam batas-batas yang lebih jelas. keputusan ini mungkin melibatkan sumber daya yang signifikan, memiliki implikasi jangka menengah dan dapat diambil oleh manajer senior atau menengah.

Keputusan operasional
Merupakan keputusan yang lebih rutin dan mengikuti aturan yang dikenal. Berapa banyak? dengan spesifikasi apa? Keputusan ini melibatkan lebih banyak sumber daya yang terbatas, memiliki aplikasi jangka pendek dan dapat diambil oleh manajer lini tengah atau pertama.



Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Setiap kali kita terlibat dalam pengambilan keputusan sejumlah faktor dapat mempengaruhi proses kita ikuti dan akhirnya keputusan yang kita buat.

Kita dapat mengatur faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam tiga kelompok besar:

Masalah persepsi
Persepsi dapat digambarkan sebagai cara di mana individu menginterpretasikan lingkungan mereka. Persepsi individu dapat mempengaruhi bagaimana mereka membuat keputusan dan memecahkan masalah. Misalnya, ketika informasi tentang suatu masalah perlu dikumpulkan, persepsi individu akan berdampak pada mana informasi yang dicari dan jenis informasi yang dianggap relevan. Persepsi dapat dipengaruhi oleh hal-hal sperti, siapa yang melakukan persepsi, objek dari persepsi, dan situasi.

Masalah Organisasi
Sejumlah masalah organisasi dapat berdampak pada proses pengambilan keputusan. Isu-isu ini meliputi:

Kebijakan dan prosedur
Banyak organisasi yang telah memiliki kebijakan dan prosedur yang formal,  yang telah dikembangkan untuk mengatasi masalah umum dan untuk membimbing manajer ketika membuat keputusan. Sebagai contoh, banyak organisasi telah mendokumentasikan prosedur disiplin yang memandu manajer melalui proses menyelesaikan masalah dengan anggota staf.

hirarki Organisasi
Hirarki organisasi mengacu pada struktur manajemen organisasi. Sebagian besar organisasi memiliki berbagai tingkat manajemen yang menunjukkan derajat yang berbeda untuk tingkat otoritas. Tingkat kewenangan langsung berdampak pada sifat dari keputusan yang dibuat olehseorang individu. Misalnya, Customer Contact Centre Team Leader tidak bisa membuat keputusan tentang tujuan keseluruhan organisasi. Namun, Team Leader dapat membuat keputusan tentang bagaimana tim mereka berkontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Politik Organisasi
Politik Organisasi  mengacu pada perilaku yang ditampilkan oleh individu dan kelompok yang dirancang untuk mempengaruhi orang lain. Individu dan tim akan sering menggunakan politik untuk hal-hal yang bersifat Memajukan karir mereka, Memajukan kepentingan dan ide-ide mereka, atau juga Meningkatkan penghargaan mereka. Organisasi yang terdiri dari individu yang berbeda keyakinan, nilai-nilai dan kepentingan. Perbedaan ini sering menjadi kekuatan pendorong di belakang politik organisasi. Sebagai contoh, dua tim percaya bahwa mereka membutuhkan anggota tim tambahan. Sayangnya organisasi hanya mampu satu karyawan baru. Kedua tim juga dapat menggunakan politik dalam upaya untuk mempengaruhi manajer mereka untuk mengalokasikan karyawan baru untuk tim mereka.

Isu Lingkungan
Isu lingkungan merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi organisasi. Jenis-jenis faktor eksternal yang dapat berpengaruh pada pengambilan keputusan meliputi Pasar di mana organisasi beroperasi, kondisi ekonomi, peraturan pemerintah, serta Reaksi pelanggan terhadap produk dan jasa organisasi


Sumber: